Tampilkan postingan dengan label mahasiswa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mahasiswa. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 12 Desember 2020

Udeng Resmi !! Kado terindah HARI JADI TULUNGAGUNG KE 815

Hari sabtu tepat tanggal 12 Desember 2020 alias tanggal cantik 12-12-2020 adalah momentum sakral rangkaian kegiatan launching udeng ikat khas Tulungagung, penyerahan bantuan perlengkapan tenda FORKOM POKDARWIS Tulungagung dan penanaman simbolis pohon terlaksana dengan penuh semarak. Ratusan peserta terdiri dari Mahasiswa, pelajar, komunitas budaya dan masyarakat sekitar antusias mengikuti acara ini Telaga Buret Desa Sawo Kecamatan Campurdarat kabupaten Tulungagung. 


Kegiatan ini di inisiasi oleh FORKOM POKDARWIS Tulungagung berkolaborasi dengan Pemuda Tulungagung. Diawali dengan pembukaan dan seremonial , peserta diarahkan mencintai adat istiadat dan budaya Tulungagung. dengan simbolis serah terima bibit pohon menuju lokasi penanaman yang berada di sekitar Telaga Buret.  dilanjutkan pelepasan ikan di sekitar telaga dan pelepasan sepasang Merpati menandakan acara dibuka. kemudian serah terima bantuan perlengkapan tenda dari Kemnaker diwakili PLT Dinas tenaga kerja Tulungagung dan launching udeng ikat khas Tulungagung. 

Hadir Pula Plt Kepala Dinas Pariwisata, Dewan Kebudayaan, Perwakilan DPRD Tulungagung, Tokoh Purnawirawan Jendral Harry Yuwono dalam kegiatan Launching ini. Hal ini adalah kado terindah dalam rangka Hari Jadi Kabupaten Tulungagung ke-815 “DENGAN SEMANGAT HARI JADI KABUPATEN TULUNGAGUNG KE-815 DI ERA PANDEMI COVID-19, KITA BERTEKAD MEWUJUDKAN MASYARAKAT YANG PEDULI SOSIAL, TANGGUH, DAN SEJAHTERA”


Menurut sejarah pada tahun 1205 M, masyarakat Thani Lawadan di selatan Tulungagung, mendapatkan penghargaan dari Raja Daha terakhir, Kertajaya, atas kesetiaan mereka kepada Raja Kertajaya ketika terjadi serangan musuh dari timur Daha. Penghargaan tersebut tercatat dalam Prasasti Lawadan dengan candra sengkala "Sukra Suklapaksa Mangga Siramasa" yang menunjuk tanggal 18 November 1205 M. Tanggal keluarnya prasasti tersebut akhirnya dijadikan sebagai hari jadi Kabupaten Tulungagung sejak tahun 2003.

Di Desa Boyolangu, Kecamatan Boyolangu, terdapat Candi Gayatri. Candi ini adalah tempat untuk mencandikan Gayatri (Sri Rajapatni), istri keempat Raja Majapahit yang pertama, Raden Wijaya (Kertarajasa Jayawardhana), dan merupakan ibu dari Ratu Majapahit ketiga, Sri Gitarja (Tribhuwanatunggadewi), sekaligus nenek dari Hayam Wuruk (Rajasanegara), raja yang memerintah Kerajaan Majapahit pada masa keemasannya. Nama Boyolangu itu sendiri tercantum dalam Kitab Nagarakertagama yang menyebutkan nama Bayalangu/Bhayalango (bhaya = bahaya, alang = penghalang) sebagai tempat untuk menyucikan dia. Berikut ini adalah kutipan Kitab Negarakertagama yang ditulis oleh Mpu Prapanca dan telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia:

Prajnyaparamitapuri itulah nama candi makam yang dibangun
Arca Sri Padukapatni diberkati oleh Sang Pendeta Jnyanawidi
Telah lanjut usia, paham akan tantra, menghimpun ilmu agama
Laksana titisan Empu Barada, menggembirakan hati Baginda
(Pupuh LXIX, Bait 1)

Di Bayalangu akan dibangun pula candi makam Sri Rajapatni
Pendeta Jnyanawidi lagi yang ditugaskan memberkati tanahnya
Rencananya telah disetujui oleh sang menteri demung Boja
Wisesapura namanya, jika candi sudah sempurna dibangun
(Pupuh LXIX, Bait 2)

Makam rani: Kamal Padak, Segala, Simping
Sri Ranggapura serta candi Budi Kuncir
Bangunan baru Prajnyaparamitapuri
Di Bayalangu yang baru saja dibangun
(Pupuh LXXIV, Bait 1)


Untuk itu, beberapa rangkaian kegiatan yang dianggap mengundang keramaian kini ditiadakan untuk sementara.   “Peringatan tahun ini, acara kita hanya Launching ikat kepala atau Udeng khas Tulungagung Bumi Agung Waskita jawi dan doa bersama saja,” ucap Karsi Nerro selaku Ketua Forkom Pokdarwis Tulungagung. 

Meski begitu, hal ini tidak mengurangi substansi akan pentingnya nilai luhur yang ada. “Meski digelar secara sederhana, tetapi kegiatan meriah ini akan terus berlanjut dan mampu memberi sumbangsih karya seni Khas Tulungagung,” pungkasnya.

 Dengan bangga dalam rangka Hari Jadi Kabupaten Tulungagung ke 815 telah diselenggarakan  launching udeng Khas Tulungagung Bumi Agung  Waskita Jawi memiliki ijin resmi dan terdaftar di HAKI ... untuk pemesanan hubungi kami☎️081354704412

Senin, 07 Desember 2020

Problematika Pelajar di Daerah saat Masa Pandemi Covid-19

 


Pandemi virus corona (covid-19) tiba-tiba mengubah keseharian individu dan aktivitas masyarakat, yang membawa dampak perubahan luar biasa untuk semua kelompok masyarakat.  Baik kalangan kelas atas maupun kalangan bawah. Demikian juga seluruh aspek kehidupan ikut terpuruk akibat kondisi tersebut, salah satunya bidang pendidikan, sehingga belajar dari rumah merupakan keniscayaan yang harus diterima pelajar dan tenaga pengajar. Hal ini mengakibatkan mahasiswa dan siswa dasar serta menengah dipaksa melakukan pembelajaran di rumah dikarenakan kampus dan sekolah ditutup pemerintah untuk sementara.


Berbagai ragam kepanikan timbul akibat Pandemi virus Covid-19 dalam masyarakat. Pemerintah pusat berupaya secara beruntun menyikapi dengan berbagai tindakan seperti penetapan status siaga sampai dengan status darurat. Tak heran jika kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) mulai diberlakukan diberbagai tempat demi memutus penyebaran covid 19. Masyarakat terus dihujani dengan pemberitaan covid 19. Hal ini menyebabkan kekhawatiran masyarakat untuk keluar rumah.
Akibat dari pembatasan kegiatan masyarakat di luar rumah, membuat penawaran pemanfaatan teknologi menjadi sebuah keniscayaan. Teknologi berperan penting dengan melihat disrupsi akibat pandemi, termasuk disrupsi dunia pendidikan.

Pembelajaran tatap muka yang dilakukan 100 % di sekolah tiba-tiba mengalami perubahan yang sangat drastis. Semua kegiatan pembelajaran dilakukan dari rumah. Proses tatap muka menjadi proses jarak jauh yang difasilitasi media virtual. Hal ini dialami seluruh dunia termasuk Indonesia.

Pembelajaran dari rumah benar-benar dirasakan berat bagi pelajar maupun tenaga pengajar, bahkan orang tua. Semua lini masyarakat dipaksa untuk bertransformasi dan beradaptasi pada kondisi pandemi ini. Masyarakat diharap mampu beradaptasi secara ekonomi untuk berpindah ke strategi pembelajaran online. Meskipun, dalam kenyataannya, akan banyak tantangan yang dihadapi.
Pembelajaran online menyisakan berbagai problematika. Salah satu permasalahan yang dihadapi adalah di atas 50 % pelajar dan mahasiswa berasal dari kelompok masyarakat menegah dan bawah. Mereka tumbuh dari keluarga berpenghasilan sedang dan rendah yang tentunya mengalami keterbatasan fasilitas sehingga sedikit terganggu dalam kegiatan belajarnya.


Hal yang sama juga dirasakan oleh pelajar daerah yang masih menempuh pendidikan di kota, kini harus bersaing dengan kondisi serba keterbatasan. Fasilitas kampus tidak lagi bisa dipergunakan, jaringan tidak mudah lagi terkoneksi dengan teknologi pendukung seadanya. Tak punya alasan, pelajar daerah harus tetap aktif dalam perkuliahan daring (online) demi memenuhi standar penilaian yang telah ditetapkan.
Kebanyakan pelajar daerah harus menempuh perjalanan beberapa kilometer untuk koneksi internet, bahkan ada yang harus masuk warnet demi untuk mendapatkan peralatan komunikasi dan koneksi jaringan. Tidak pikir panjang, ada beberapa dari mereka yang menginap dan mendirikan tenda di hutan sebagai tempat belajar bersama sekaligus pelindung dari sinar matahari dan hujan.

Jika pelaku dunia pendidikan tidak bertindak cepat dan tepat, maka sepanjang itu pula kesenjangan akan terus terjadi.

Berbagai upaya telah dilakukan untuk menyuarakan aspirasi demi sebuah solusi, mulai dari protes ocehan, melakukan komunikasi di media sosial untuk sekedar mendapatkan jawaban dari pemangku kebijakan atau pelaku pendidikan sampai dengan meminta kebijakan guru atau dosen untuk tidak terlalu membebani tugas dan jangka waktu pengumpulan tugas serta alternatif yang tidak terlalu menyusahkan.

Sebenarnya, model pembelajaran di rumah dan di sekolah bisa dikatakan relatif sama kualitas dan tujuannya kalau dalam keadaan normal. Mungkin yang membedakan adalah sarana dan prasarana yang digunakan.
Memang diakui strategi pembelajaran jarak jauh (online) adalah salah satu sarana yang dapat dipilih pada masa-masa sekarang, setidaknya untuk mengurangi dampak di bidang pendidikan. Namun secara kualitas dan pencapaian target belajar belum tentu sama hasilnya antara pelajar.

Dalam situasi darurat, ketika masyarakat (termasuk pelajar dan tenaga pengajar) masih dibayangi wabah mematikan covid-19, seharusnya desain dan proses pembelajaran yang diterapkan berbeda sebab belajar tidak lagi bisa dianggap sebagai hal seperti biasanya (kondisi darurat). Walaupun demikian, kebijakan belajar di rumah yang ditetapkan dengan tujuan untuk menghambat penyebaran virus dalam praktiknya tetap harus mengacu pada kurikulum nasional yang digunakan.

Belum seragamnya proses pembelajaran, baik itu terkait standar maupun kualitas capaian pembelajaran yang diinginkan hingga saat ini masih menjadi sebuah problematika besar di kalangan pelajar daerah. Ketidaksetaraan fasilitas pembelajaran berupa koneksi internet dan peralatan komunikasi seperti laptop atau smartphone akan mengakibatkan kesenjangan yang semakin tajam.
Begitulah kira-kira info yang didapatkan. Patut diapresiasi semua yang telah dilakukan oleh Kementerian Pendidikan agar pembelajaran tidak terhenti. Harapan besar kepada pelaku pendidikan agar mencari alternatif lain khusus bagi pembelajaran jarak jauh yang tidak terjangkau akses internet untuk mengatasi masalah-masalah yang dialami pelajar daerah terutama daerah yang berada di pegunungan.
Jadi, sambil menunggu kebijakan atau solusi yang akan diberikan pemerintah mengenai pendidikan, para orang tua harus mengambil peran dalam pembelajaran di rumah. Mengontrol serta belajar mandiri, terutama yang berorientasi kepada minat bakat anak.
Kemudian, inilah waktu yang tepat bagi pelajar agar memelihara kembali literasi dengan memperbanyak membaca. Pendemi covid-19 bukan alasan untuk bersantai dan bermalas-malasan di rumah tanpa berbuat sesuatu yang bermanfaat. Banyak yang bisa dilakukan dari rumah, seperti membaca buku, belajar tata cara beribadah, benyanyi, berpuisi dan sebagainya. Bukan tidak mungkin ketika wabah ini telah berakhir akan muncul bakat dan potensi baru dari pelajar dan mahasiswa. (*)

(Tulisan ini dikembangkan dari Mata Kuliah Kurikulum dan Buku Teks)

*Penulis adalah Mahasiswa STAI DIPONEGORO TULUNGAGUNG Pengurus HMPS FEBI, PMII TULUNGAGUNG .

Rabu, 04 November 2020

Meningkatkan Budaya Literasi diKalangan Pelajar dengan "Batuk Haha"

 

Meningkatkan Budaya Literasi diKalangan Pelajar dengan "Batuk Haha"

Oleh: FIkri Imanullah


***

Literasi merupakan sebuah kemampuan melek huruf yang didalamnya meliputi kemampuan membaca, memahami, dan menulis. Literasi sangat cocok apabila dilakukan dikalangan pelajar, karena jika pelajar melakukan hal ini akan melatih dirinya untuk menguasai ilmu maupun materi yang telah dipelajari. Namun sebenarnya hal serupa telah diberlakukan oleh guru saat memberi tugas kepada peserta didiknya untuk menjawab pertanyaan yang diberikan, melakukan presentasi didepan kelas, ataupun membaca serta memahami materi yang akan diajarkan oleh sang guru. Dengan adanya ini guru berharap agar peserta didiknya terlatih membaca buku yang merupakan jendela dunia dan sekumpulan dari ilmu. 



Dengan begitu tanpa sengaja dapat membiasakan peserta didik melakukan budaya literasi yang menjadi program pendidikan saat ini. Namun keadaan yang diharapkan dari  peserta didik justru berbalik. Mereka justru mencari jalan keluar untuk mengerjakan tugasnya secara instan tanpa membaca buku tetapi menginginkan hasil yang lebih cepat dan mudah. Budaya baca dan  literasi yang diharapkan justru berbalik menjadi budaya cepat tepat dengan aplikasi pencarian. Dengan aplikasi pencarian ini mereka menganggap dapat memenuhi sesuatu yang ingin dicari dengan mudah dan cepat serta dianggap tepat. Tetapi kenyataannya tidak sepenuhnya hasil pencarian dapat dipastikan kebenarannya. Hal seperti inilah dapat mengurangi minat baca masyarakat utamanya di kalangan pelajar. Apabila minat baca berkurang tentunya minat literasi pun juga dapat berkurang. Karena literasi berawal dari membaca. Dilatar belakangi oleh permasalahan tersebut membuat penulis memiliki inovasi berupa tips batuk haha dan mengungkapkan pendapatnya melalui essai dengan judul Meningkatkan Budaya Literasi diKalangan Pelajar dengan "Batuk Haha" .

 

Batuk haha

Batuk secara umum adalah penyakit, respon alami dari tubuh sebagai pertahanan untuk mengeluarkan zat dan parikel dari dalam saluran pernafasan. Sedangkan haha yang tidak asing ditelinga adalah sebuah perwujudan ekspresi tertawa yang biasa di wujudkan dalam bentuk tulisan. Akan tetapi batuk haha yang sebenarnya dimaksud bukanlah yang telah diuraikan diatas, melainkan sebuah tips yang sengaja dibuat penulis untuk meningkatkan budaya literasi dikalangan pelajar. Batuk haha merupakan singkatan dari empat langkah menjalankan tips tersebut. Batuk haha kepanjangan dari budayakan baca disekolah, bentuklah komunitas wajib baca, hafalkan dari hasil yang telah dibaca, dan hasil dari yang dibaca wajib ditulis kembali. Tips ini dianggap cocok oleh penulis karena berdasar pengamatan selama ini sebelum pelajaran dimulai guru akan menyuruh peserta didiknya membaca sekilas materi yang akan diajarkan, dimaksudkan agar peserta didik setidaknya lebih paham dan menguasai materi. Namun pelaksanaan tips tidak berhenti di sini. Penjelasan tata cara pelaksanaan akan dibahas pada sub bab selanjutnya.

 

Tata cara pelaksanaan Batuk Haha

Seperti yang telah dijelaskan pada sub bab sebelumnya, batuk haha yang dimaksud disini adalah sebuah tips yang sengaja dibuat penulis yang ditujukan untuk meningkatkan budaya literasi di masyarakat utamanya di kalangan pelajar. Sengaja ditujukan di kalangan pelajar, karena pelajar adalah generasi penerus bangsa, masa depan bangsa ada pada tangan generasi penerusnya. Budaya literasi perlu ditanamkan pada generasi penerus utamanya pelajar, agar pelajar bisa menjadi penerus yang dapat diandalkan dan suatu saat dapat menggantikan yang mendahuluinya. Untuk memudahkan generasi membiasakan hidupnya dengan budaya literasi, penulis menyampaikan pendapatnya dengan tips batuk haha. Batuk haha yang terdiri dari singkatan empat langkah untuk membiasakan diri dengan kehidupan budaya literasi terurai dari kata ba kepanjangan dari budayakan membaca di sekolah, tuk kepanjangan dari bentuk komunitas wajib baca, dan ha yaitu hafalkan inti dari hasil yang dibaca, serta ha yang terakhir yaitu hasil yang dibaca wajib ditulis kembali dengan bahasa sendiri.

Budayakan baca di sekolah, sebelumnya sudah sering diterapkan guru sebelum memulai pengajaran materi, guru akan menyuruh peserta didik membaca materi yang akan diajarkan dengan waktu 15 menit. Hal serupa juga dilakukan di Jepang negara dengan tingkat minat baca terbesar bahkan di negara ini jarang orang berkomunikasi apabila itu tidak terlalu penting, mereka lebih memilih membaca buku daripada melakukan hal yang tidak penting. Sedangkan untuk pelajar mereka diwajibkan mengulang mempelajari materi sebelum pengajaran dimulai dengan disediakan waktu yang tidak sedikit pula. Maka di Indonesia juga dapat dilakukan hal yang sama meskipun dikhususkan untuk pelajar saja. Kebiasaan membaca buku akan sulit dilakukan jika sebelumnya belum pernah dimulai untuk menghadapinya perlu dilakukan langkah yang kedua yaitu tuk, bentuk komunitas wajib baca. Dengan membentuk komunitas baca tentunya tidak akan merasa bosan, komunitas wajib baca ini dapat dibuat melalui media apapun baik itu berupa grub media sosial yang secara tidak langsung, ataupun dengan memilih teman sekolah sebagai kelompok komunitas baca. Di dalam komunitas ini para pelajar akan membicarakan buku yang dibaca dengan saling menceritakan isi buku bagian mereka yang telah dibaca serta pelajar yang lain akan saling memperhatikan dan menyimaknya. Secara tidak langsung mereka telah membaca, menghafal dan mempresentasikan hasil yang dibaca kepada teman sekelompoknya. Setelah itu akan ada persaingan sehat antar kelompok dengan melakukan langkah ketiga yaitu ha. Menunjukkan bahwa dirinya bisa mengerjakan literasi dengan benar, untuk itu perlu dipamerkan hasil bacanya di kelompok lain, dengan melakukan presentasi di depan kelompok lain dan tepatnya di depan kelas.  Tiga langkah yang sudah diuraikan diatas masih sampai melatih keterampilan berbicara atau menyampaikan. Sedangkan literasi tidak cukup disitu, melainkan sampai pada tahap menulis. Sehingga untuk melatih keterampilan menulis agar dapat memenuhi kriteria literasi maka perlu adanya melakukan langkah yang terakhir yaitu ha yang kedua, dengan memperlakukan hasil bacaan untuk ditulis kembali. Langkah ke empat ini adalah menulis kembali inti hasil yang dibaca dengan bahasa sendiri tanpa ada unsur sama persis dengan hasil yang dibaca atau dihafalkan sebelumnya. Menulis kembali dengan bahasa sendiri dapat melatih keterampilan menulis dengan bahasa yang benar. Hal ini dilakukan untuk mencegah buta kalimat atau buta membuat rangkaian kalimat yang benar. Serta untuk menghilangkan kebiasaan copy paste atau menyalin saja. Karena jika copy paste ini sering dilakukan dan tentunya kalimat tersebut akan sama persis dengan hasil salinannya. Sehingga ini dapat membuat pelajar menjadi malas untuk berfikir sendiri, membuat kalimat sendiri. Dan dapat menimbulkan bakat menulis yang tertimbun ataupun bakat literasi yang tertimbun. Sehingga dengan begitu, dapat mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan.

Kesimpulan

Literasi merupakan kemampuan melek aksara yang meliputi kemampuan membaca, memahami serta menulis. Budaya baca yang pernah dibiasakan oleh guru sebelum pengajaran dimulai dan agar bertujuan berkembang menjadi literasi, kenyataannya justru berbalik menjadi kebiasaan pencarian instan dengan aplikasi pencarian yang sudah tersedia. Hal ini sebagai bukti bahwa minat baca dikalangan pelajar berkurang. Berkurangnya nilai minat baca akan mempengaruhi pad minta literasi juga.Sengaja ditujukan pada pelajar karena pelajar merupakan generasi penerus bangsa. Oleh karenanya untuk menyeimbangkan permasalahan yang ada penulis mengutarakan pendapatnya dengan membuat inovasi berupa tips Batuk Haha yang berisi empat langkah meningkatkan literasi di kalangan pelajar.

Daftar Pustaka

Makalah

- Menumbuhkan Budaya Literasi diKalangan Pelajar : Asif Alfarikh

- Materi topik 6 tentang Literasi

- PEMALAS(Perpustakaan Masuk Kelas Sebagai Eksistensi Literasi Siswa di MAN 1 Tulungagung) : Enggar Purbaningrum, Shela Dwi Widhya Sari, Vanisha Amelia Riani

 

 

Internet

- https://www.educenter.id/7-cara-membangun-budaya-literasi-di-era-gawai : selasa, 26 - 02- 2020 08.00 wib

- https://blog.ruangguru.com/ciri-ciri-dan-struktur-esai: selasa, 26 - 02- 2020 08.15 wib

Minggu, 04 Oktober 2020

Program Kartu Tani untuk kesejahteraan Petani tetapi

Hari ini banyak sekali keluh kesah dari petani belimbing dan tembakau yang tidak bisa (baca ; langka) mendapatkan pupuk sebagaimana mestinya. masalah kelangkaan pupuk sebenarnya terjadi karena perbedaan antara rencana kebutuhan (Permentan/SK Gubernur/SK Bupati/ Wali Kota) dengan kebutuhan petani. Hal ini bisa disebabkan oleh terjadinya gangguan alam seperti banjir sehingga perlu penanaman ulang.
Hingga tanaman produktif nya berkurang dan mengalami perubahan dari hasil buahnya
Selama ini pola penyaluran rawan penyimpangan, sedangkan untuk melakukan pengawasan memerlukan biaya yang tinggi, karena saat ini perbedaan harga yang bersubsidi dan nonsubsidi sangat jauh."