Tampilkan postingan dengan label ipnu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ipnu. Tampilkan semua postingan

Senin, 07 Desember 2020

Problematika Pelajar di Daerah saat Masa Pandemi Covid-19

 


Pandemi virus corona (covid-19) tiba-tiba mengubah keseharian individu dan aktivitas masyarakat, yang membawa dampak perubahan luar biasa untuk semua kelompok masyarakat.  Baik kalangan kelas atas maupun kalangan bawah. Demikian juga seluruh aspek kehidupan ikut terpuruk akibat kondisi tersebut, salah satunya bidang pendidikan, sehingga belajar dari rumah merupakan keniscayaan yang harus diterima pelajar dan tenaga pengajar. Hal ini mengakibatkan mahasiswa dan siswa dasar serta menengah dipaksa melakukan pembelajaran di rumah dikarenakan kampus dan sekolah ditutup pemerintah untuk sementara.


Berbagai ragam kepanikan timbul akibat Pandemi virus Covid-19 dalam masyarakat. Pemerintah pusat berupaya secara beruntun menyikapi dengan berbagai tindakan seperti penetapan status siaga sampai dengan status darurat. Tak heran jika kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) mulai diberlakukan diberbagai tempat demi memutus penyebaran covid 19. Masyarakat terus dihujani dengan pemberitaan covid 19. Hal ini menyebabkan kekhawatiran masyarakat untuk keluar rumah.
Akibat dari pembatasan kegiatan masyarakat di luar rumah, membuat penawaran pemanfaatan teknologi menjadi sebuah keniscayaan. Teknologi berperan penting dengan melihat disrupsi akibat pandemi, termasuk disrupsi dunia pendidikan.

Pembelajaran tatap muka yang dilakukan 100 % di sekolah tiba-tiba mengalami perubahan yang sangat drastis. Semua kegiatan pembelajaran dilakukan dari rumah. Proses tatap muka menjadi proses jarak jauh yang difasilitasi media virtual. Hal ini dialami seluruh dunia termasuk Indonesia.

Pembelajaran dari rumah benar-benar dirasakan berat bagi pelajar maupun tenaga pengajar, bahkan orang tua. Semua lini masyarakat dipaksa untuk bertransformasi dan beradaptasi pada kondisi pandemi ini. Masyarakat diharap mampu beradaptasi secara ekonomi untuk berpindah ke strategi pembelajaran online. Meskipun, dalam kenyataannya, akan banyak tantangan yang dihadapi.
Pembelajaran online menyisakan berbagai problematika. Salah satu permasalahan yang dihadapi adalah di atas 50 % pelajar dan mahasiswa berasal dari kelompok masyarakat menegah dan bawah. Mereka tumbuh dari keluarga berpenghasilan sedang dan rendah yang tentunya mengalami keterbatasan fasilitas sehingga sedikit terganggu dalam kegiatan belajarnya.


Hal yang sama juga dirasakan oleh pelajar daerah yang masih menempuh pendidikan di kota, kini harus bersaing dengan kondisi serba keterbatasan. Fasilitas kampus tidak lagi bisa dipergunakan, jaringan tidak mudah lagi terkoneksi dengan teknologi pendukung seadanya. Tak punya alasan, pelajar daerah harus tetap aktif dalam perkuliahan daring (online) demi memenuhi standar penilaian yang telah ditetapkan.
Kebanyakan pelajar daerah harus menempuh perjalanan beberapa kilometer untuk koneksi internet, bahkan ada yang harus masuk warnet demi untuk mendapatkan peralatan komunikasi dan koneksi jaringan. Tidak pikir panjang, ada beberapa dari mereka yang menginap dan mendirikan tenda di hutan sebagai tempat belajar bersama sekaligus pelindung dari sinar matahari dan hujan.

Jika pelaku dunia pendidikan tidak bertindak cepat dan tepat, maka sepanjang itu pula kesenjangan akan terus terjadi.

Berbagai upaya telah dilakukan untuk menyuarakan aspirasi demi sebuah solusi, mulai dari protes ocehan, melakukan komunikasi di media sosial untuk sekedar mendapatkan jawaban dari pemangku kebijakan atau pelaku pendidikan sampai dengan meminta kebijakan guru atau dosen untuk tidak terlalu membebani tugas dan jangka waktu pengumpulan tugas serta alternatif yang tidak terlalu menyusahkan.

Sebenarnya, model pembelajaran di rumah dan di sekolah bisa dikatakan relatif sama kualitas dan tujuannya kalau dalam keadaan normal. Mungkin yang membedakan adalah sarana dan prasarana yang digunakan.
Memang diakui strategi pembelajaran jarak jauh (online) adalah salah satu sarana yang dapat dipilih pada masa-masa sekarang, setidaknya untuk mengurangi dampak di bidang pendidikan. Namun secara kualitas dan pencapaian target belajar belum tentu sama hasilnya antara pelajar.

Dalam situasi darurat, ketika masyarakat (termasuk pelajar dan tenaga pengajar) masih dibayangi wabah mematikan covid-19, seharusnya desain dan proses pembelajaran yang diterapkan berbeda sebab belajar tidak lagi bisa dianggap sebagai hal seperti biasanya (kondisi darurat). Walaupun demikian, kebijakan belajar di rumah yang ditetapkan dengan tujuan untuk menghambat penyebaran virus dalam praktiknya tetap harus mengacu pada kurikulum nasional yang digunakan.

Belum seragamnya proses pembelajaran, baik itu terkait standar maupun kualitas capaian pembelajaran yang diinginkan hingga saat ini masih menjadi sebuah problematika besar di kalangan pelajar daerah. Ketidaksetaraan fasilitas pembelajaran berupa koneksi internet dan peralatan komunikasi seperti laptop atau smartphone akan mengakibatkan kesenjangan yang semakin tajam.
Begitulah kira-kira info yang didapatkan. Patut diapresiasi semua yang telah dilakukan oleh Kementerian Pendidikan agar pembelajaran tidak terhenti. Harapan besar kepada pelaku pendidikan agar mencari alternatif lain khusus bagi pembelajaran jarak jauh yang tidak terjangkau akses internet untuk mengatasi masalah-masalah yang dialami pelajar daerah terutama daerah yang berada di pegunungan.
Jadi, sambil menunggu kebijakan atau solusi yang akan diberikan pemerintah mengenai pendidikan, para orang tua harus mengambil peran dalam pembelajaran di rumah. Mengontrol serta belajar mandiri, terutama yang berorientasi kepada minat bakat anak.
Kemudian, inilah waktu yang tepat bagi pelajar agar memelihara kembali literasi dengan memperbanyak membaca. Pendemi covid-19 bukan alasan untuk bersantai dan bermalas-malasan di rumah tanpa berbuat sesuatu yang bermanfaat. Banyak yang bisa dilakukan dari rumah, seperti membaca buku, belajar tata cara beribadah, benyanyi, berpuisi dan sebagainya. Bukan tidak mungkin ketika wabah ini telah berakhir akan muncul bakat dan potensi baru dari pelajar dan mahasiswa. (*)

(Tulisan ini dikembangkan dari Mata Kuliah Kurikulum dan Buku Teks)

*Penulis adalah Mahasiswa STAI DIPONEGORO TULUNGAGUNG Pengurus HMPS FEBI, PMII TULUNGAGUNG .

Kamis, 12 November 2020

New Mindset: Dari Minat Membaca Menuju Membaca Minat

 

New Mindset: Dari Minat Membaca Menuju Membaca Minat”

Oleh: Fikri Imanullah

PAC IPNU Boyolangu

***

            Akhir-akhir ini kita sering dihadapkan dengan istilah literasi. Ada Gerakan Literasi Nasional (GLN), Gerakan Literasi Sekolah (GLS), dan sebagainya. Istilah literasi hampir setiap hari dapat kita temui baik di media cetak ataupun daring. Apa itu literasi? Menurut KBBI, literasi adalah kemampuan menulis dan membaca. KBBI juga mengartikannya dengan kemampuan individu dalam mengolah informasi dan pengetahuan untuk kecakapan hidup.1



Perkembangan zaman yang semakin pesat menuntut setiap individu untuk memilki kegemaran membaca dan menulis, hal ini diperlukan guna memperoleh pengetahuan dan wawasan yang luas dalam rangka meningkatkan kecakapan merespon perubahan zaman. Kemampuan membaca mempunyai peran penting dan menjadi salah satu kunci kesuksesan seseorang. Pasalnya, setiap informasi dan pengetahuan apapun yang diperoleh tidak terlepas dari kegiatan membaca.

            Literasi dalam konteks ini bukan hanya menyangkut hal ihwal bagaimana seorang individu bebas dari buta aksara, melainkan lebih dari itu, yakni bagaimana seorang individu sebagai warga bangsa memiliki kecakapan hidup agar mampu bersaing dan bersanding dengan bangsa lain untuk menciptakan kesejahteraan dunia. Bangsa yang maju tidak dibangun hanya dengan mengandalkan kekayaan alam yang melimpah dan jumlah penduduk yang banyak. Bangsa yang besar ditandai dengan masyarakat yang literat, memiliki peradaban yang tinggi dan aktif memajukan masyarakat dunia. Sedangkan di Indonesia, budaya literasi masyarakat masih tergolong cukup rendah—tetapi tergolong ada kemajuan. Sebagaimana dilansir oleh MOJOK.CO, mengacu ke PISA, Indonesia sudah naik ke peringkat 62 dari 72 negara.2 Peringkat yang masih tergolong rendah ini harus ditingkatkan dengan inovasi peningkatan literasi yang efektif.

            Masih tergolong lemahnya tradisi literasi di Indonesia dapat dilihat dari fenomena perkembangan dunia digital. Pada taraf tertentu, teknologi digital juga mengembalikan budaya baca kepada masyarakat, khususnya pelajar, baik dengan mengakses berbagai tulisan di internet melalui search engine ataupun melalui berbagai sarana media sosial. Tantangannya justru menjadi semakin besar yang mana berefek pada tingkat minat baca masyarakat Indonesia. Sebab, banyaknya informasi di dunia digital yang membanjiri masyarakat tersebut justru seringkali membuat masyarakat pragmatis, di mana mereka para pengguna internet cenderung mengakses tulisan-tulisan pendek yang kurang luas dan mendalam bahasannya. Bahkan, terkadang mereka juga terjebak hoaks.

            Problem literasi ini tentunya menjadi masalah serius yang perlu kita pecahkan bersama. Sebab, masalah literasi bukanlah masalah yang sederhana. Bila kita abai terhadap masalah tersebut, kita pasti akan tertinggal oleh negara – negara lain. Literasi merupakan salah satu jalan jitu untuk mendapatkan pemahaman utuh tentang sebuah realitas. Membudayakan literasi bisa memberikan kita kemampuan menganalisis dan mengkritik berbagai fenomena yang terjadi. Bila budaya literasi tidak juga kita kembangkan, kita akan semakin jauh dengan kemajuan.

            Budaya literasi dinilai menjadi hal penting bagi para pelajar. Mereka setiap hari bergelut dengan yang namanya literasi. Dengan budaya itu, pelajar akan memiliki wawasan luas dan berpikir lebih kritis dan terbuka. Seorang pelajar akan punya referensi yang baik mengenai berbagai informasi. Untuk selanjutnya, sangat memungkinkan bagi pelajar untuk mengembangkan wacana dan gagasannya. Bahkan, budaya itu juga dapat berefek dalam membantu para pelajar untuk membuahkan suatu karya tulis yang berbobot.

            Perkembangan teknologi umumnya memudahkan manusia dalam banyak urusan, termasuk dalam membaca dan menulis. Dengan demikian, sejatinya tidak ada alasan lagi bagi manusia modern untuk tidak dapat mengakses informasi guna membangun budaya literasi. Di era modern sekarang ini, membaca dan menulis bahkan dapat dilakukan dengan mudah. Buku yang dulu itu berupa kertas, kini sudah berupa paperless (e-book). Kita dapat mengaksesnya dengan mudah melalui internet, dan itupun banyak yang gratis. Selain itu, dengan kemajuan teknologi ini, kita juga dapat menulis dengan mudah. Di manapun dan kapan pun kita dapat melakukan aktivitas literasi dengan alat yang ada di genggaman kita, hand phone.

            Dengan demikian, aktivitas literasi dan status kita sebagai pelajar itu ibarat seperti koin, yakni dua sisi berbeda yang tidak dapat dipisahkan. Bagi pelajar, membaca dan menulis itu sudah menjadi makanan pokok sehari-hari. Bukan pelajar namanya jika tidak mau membaca dan menulis. Membaca sendiri berarti juga membuka jendela dunia. Semakin banyak membaca, artinya, semakin luas pula pengetahuan dan wawasan. Dengan banyak membaca, menulis pun akan menjadi lebih mengalir.

            Untuk mengembangkan budaya membaca tersebut, kita harus bisa merubah mindset seseorang agar orang itu mau membaca, khususnya membaca buku. Saat ini masalahnya, yaitu mindset kita tentang keberadaan buku itu sendiri. Saat ini banyak pelajar yang beranggapan bahwa buku merupakan suatu benda yang harus dibaca, apapun itu genre bukunya. Sehingga, hal ini membuat pelajar menjadi enggan untuk membaca buku. Selama ini kita juga mungkin salah dalam mengajak orang supaya berminat untuk membaca buku. Kalau disuguhi pertanyan “bagaimana menumbuhkan minat baca pelajar?”, tentu hanya beberapa orang yang bisa menjawab. Nah, mulai saat ini mungkin kita bisa mengubah mindset itu. Bukan untuk membuat pelajar supaya berminat untuk membaca, tetapi “bagaimana cara membuat pelajar menemukan minatnya?”. Masalah yang sebenarnya ada di masyarakat kita ini adalah pencarian minat yang sesuai dengan dirinya. Banyak pelajar yang bingung dengan minatnnya sendiri sehingga, ia tidak tahu harus mengikuti yang mana. Pada akhirnya, malah cuma sebatas ikut-ikutan orang lain.

            Kunci dalam peningkatan literasi pelajar disini adalah mencari minat mereka yang sesuai terlebih dahulu. Nah, kalau sudah tahu minatnya apa, pasti pelajar itu akan mencari tahu informasi terkait hal itu dan mendalami minatnya itu. Salah satu cara mencari informasi yang terbilang efektif adalah dengan membaca.

            Keberadaan buku adalah sebagai media untuk mencari tahu informasi tentang minat tersebut. Nah, ini yang perlu ditekankan. Kalau seseorang sudah tahu minatnya apa, maka ia akan mencari tahu segala informasi yang berkaitan dengan minat itu. Salah satunya adalah melalui buku. Di samping mereka juga dapat mengakses informasi yang berserak di ruang internet.

Merubah mindset ini juga harus diimbangi dengan strategi yang tepat. Dalam menumbuhkan budaya membaca di kalangan pelajar, perlu adanya strategi agar membaca dapat menjelma menjadi aktivitas yang menyenangkan. Sehingga, mindset lama yang menyatakan bahwa membaca dan menulis itu membosankan bisa dikubur dalam-dalam. Strategi yang digunakan agar membaca jadi menyenangkan, yaitu dengan cara memilih buku yang gaya bahasanya ringan dan mudah dipahami. Dari situ, kita akan mudah menyerap informasi ataupun ide yang ada di buku tersebut. Suasana yang nyaman saat membaca juga merupakan hal yang penting. Tentunya dengan demikian, bisa membuat lebih menikmati bacaan, lebih fokus, dan konsentrasi penuh.

            Jadi, kuncinya adalah cari minatnya dulu apa, baru para pelajar itu akan tergugah untuk membaca buku dalam rangka mendalami minatnya tersebut. Bukan serta-merta menyuruh seseorang untuk baca buku yang beraneka ragam genrenya. Tidak perlu mencari buku yang aneh-aneh atau berat dulu. Cukup baca buku yang sesuai dengan minat. Di samping itu, strategi yang digunakan juga harus membuat mereka nyaman.

            Mungkin dengan cara seperti itu akan mulai banyak pelajar yang membaca buku. Sehingga, buku benar-benar dijadikan sebagai media layaknya internet, dan media lainnya sebagai sumber ilmu pengetahuan.  “New Mindset, New Result”.

 

Daftar Rujukan

1https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/literasi diakses pada hari Kamis, 28 Februari 2020 pukul 17:44 WIB

2https://mojok.co/iad/esai/minat-baca-di-indonesia-rendah-ah-kata-siapa/